ty

Monday, December 24, 2012

Sunan Ampel / Raden Rahmad ( Wali Songo )

     Prabu Sri Kertawijaya tak kuasa memendam gundah. Raja Majapahit itu risau memikirkan pekerti warganya yang bubrah tanpa arah. Sepeninggal Prabu Hayam Wuruk dan Maha Patih Gajah Mada, kejaya'an Majapahit tinggal cerita pahit. Perang saudara berkecamuk di mana-mana ,panggung judi ,main perempuan dan mabuk-mabukan menjadi " kesibukan " harian kaum bangsawan dan rakyat kebanyakan.
     Melihat beban berat suaminya, Ratu Darawati merasa wajib urun rembuk " Saya punya keponakan yang ahli mendidik kemerosotan budi pekerti " Kata permai suri yang juga putri Raja Campa itu. " Namanya Sayyid Ali Rahmatullah, putra Kakanda Dewi Candrawulan ," Darawati menambahkan. Tanpa berpikir panjang, Kertawijaya mengirim utusan menjemput Ali Rahmatullah ke negeri Campa ( kini wilyah Kamboja )
     Ali Rahmatullah inilah yang kelak lebih di kenal sebagai Sunan Ampel. Cucu Raja Campa itu adalah putra ke dua pasangan Syeihk Ibrahim Asmarakandi dan Dewi Candrawulan. Ayahnya, Syeihk Ibrahim , Adalah seorang Ulama' asal Samarkand , Asia Tengah . Kawasan ini melahirkan beberapa Ulama' besar , antara lain parawi Hadis Imam Bukhari . Ibrahim berhasil mengislamkan Raja Campa,ia kemudian di angkat sebagai menantu. Sejumlah sumber sejarah mencatat silsillah Ibrahim dan Rahmatullah , yang sampai pada Nabi Muhammad lewat jalur Imam Husain bin Ali .Tarikh Auliya karya KH Bisri Mustofa mencantumkan nama Rahmatullah sebagai keturunan Nabi ke-23
    Ia di perkirakan lahir pada 1420 , karena ketika berada di Palembang pada tahun 1440 , sebuah sumber sejarah menyebutnya berusia 20 tahun, soalnya para sejarawan lebih banyak mendiskusikan tahun kedatamgan Rahmatullah di pulau Jawa. Petualang Portugis, Tomi Pires menduga kedatangan itu pada tahun 1443
    Hikayat Hasanuddin memperkirakannya pada sebelum 1446, tahun kejatuhan Campa ke tangan Vietnam
De Hollander menulis, sebelum ke Jawa ,Rahmatullah memperkenalkan Islam kepada Raja Palembang " Arya Damar " pada 1440 . Perkira'an Tome Pires menjadi bertambah kuat . Dalam lawatannya ke Jawa, Rahmatullah di dampingi ayahnya, kakak dari  ( Sayid Ali Murtadho ),dan sahabatnya ( Abu Hurairah )
    Rombongan mendrat di kota Tuban , tempat mereka berdakwah beberapa lama sampai Syeikh Asmarakandi wafat. Makamnya kini masih terpelihara di desa Gesikharjo, Palang ,Tuban,Jawa Timur.
Sisa rombongan meneruskan perjalanan ke Trowulan ibu kota Majapahit dan mereka menghadap Kartawijaya . Di sana.,Rahmatullah menyanggupi perminta'an raja untuk mendidik moral para bangsawan dan para kawula Majapahit.
    Sebagai hadiah, ia di beri tanah di Ampeldenta ,Surabaya . Sejumlah 300 keluarga di kerahkan untuk di didik dan mendirikan permukiman di Ampel. Meskipun di kala itu raja menolak masuk agama Islam,Rahmatullah di beri kebebasan mengajarkan Islam pada warga Majapahit,asal tanpa paksa'an. Selama tinggal di Majapahit, Rahmatullah di nikahkan dengan Nyi Ageng Manila , putri Tumenggung Arya Teja , Bupati Tuban.
    Sejak itu , gelar pangeran dan Raden melekat di depan namanya. Raden Rahmatullah di perlakukan sebagai keluarga Keraton Majapahit , ia pun makin di segani warga masyarakat . Pada hari yang telah di tentukan , berangkatlah rombongan Raden Rahmat ke Ampel. Dari Trowulan melewati Desa Krian ,Womokromo berlanjut ke Desa Kembang Kuning . Di sepanjang perjalanan ,Raden Rahmat terus melakukan dakwah
    Ia membagi-bagikan kipas yang terbuat dari akar rumbuhan kepada peduduk . Mereka cukup mengimbali kipas itu dengan mengucap syahadat. Pengikutnyapun kini bertambah banyak . Sebelum tiba di Ampel , Raden Rahmat sempat membangun Langgar ( Musalla ) sederhana di desa Kembang Kuning , delapat kilo meter dari Ampel . Langgar itu menjadi semakin besar dan megah ,bertahan sampai sekarang ,dan di beri nama Masjid Rahmat . Setibanya di Ampel ,langkah pertama yang di lakukan Raden Rahmat adalah membangun masjid sebagai pusati badah  dan dakwah. Kemudian Raden Rahmat membangun pesantren, mengikuti model Maulana Malik Ibrahim di Gresik. format pesantrennya mirip konsep biara yang sudah di kenal oleh masyarakat jawa.
   Raden Rahmat memang di kenal memiliki kepeka'an adaptasi. Cara menanamkan akidah dan syariat sangat memperhatikan kondisi.masyarakat. Kata " shalat " di ganti dengan "sembahyang " ( asal kata dari : sembah dan hyang ) . Tempat ibadah tidak di namai musalla, tapi  " Langgar " mirip kata sanggar. Penuntut ilmu di sebut santri,berasal dari Sastri ( orang yang tahu buku suci agama Hindu ) .Siapapun,bangsawan atau
rakyat jelata,bisa nyantri pada Raden Rahmat. Meski menganut Mazhab Hanafi, Raden Rahmat sangat toleran pada penganut Mazhab lain. Santrinya diberi kebebasan ikut Mazhab apa saja .Dengan cara pandang
netral itu,pendidikan di Ampel mendapat simpati kalangan luas. Dari sinilah sebutan " Sunan Ampel " mulai populer. Ajarannya yang terkenal adalah falsafah " Moh Limo " Artinya : Tidak melakukan lima hal tercela.
   1- Moh main ( tidak mau judi )
   2- Moh ngombe ( tidak meminun yang memabukkan )
   3- Moh maling ( tidak mau mencuri )
   4- Moh madat ( tidak mau menghisap candu,ganja,dan sejenisnya )
   5- Moh madon ( tidak mau berzina,main perempuan dan sejenisnya )
Falsafah ini sesuai dengan problema dan kemerosotan moral warga yang di keluhkan Sri Kertawijaya.
    Sanan Ampel sangat memperhatikan kaderisasi ,terbukti dari sekian putra dan santrinya ,ada yang kemudian jadi tokoh Islam terkemuka.Dari perkawinannya dengan Nyai Ageng Manila,( menurut satu versi )
Sunan Ampel di karuniai enam orang anak, dua di antaranya juga jadi Wali , yaitu Sunan Bonang ( Makdum Ibrahim ) dan Sunan Drajad ( Raden Qosim ).
    Seorang putrinya, Asyikah, menikah dengan muridnya,Raden Patah ( Yang kelak menjadi sultan Demak pertama ) Dua putrinya dari istri yang lain ( Nyai Karimah ) di nikahkan dengan kedua muridnya yang juga Wali, yakni : Dewi Murtasiah di nikahkan dengan Sunan Giri , dan Dewi Mursimah di nikahkan dengan Sunan Kalijaga.
    Sunan Ampel biasa berbeda pendapat dengan putra dan murid -mantunya yang juga para wali dalam hal menyikapi adat. Sunan Ampel lebih puritan ketimbang Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga pernah menawarkan untuk mengislamkan adat sesaji,selamatan,wayang,dan gamelan,namun Sunan Ampel menolaknya dengan cara yang halus." Apaka tidak khawatir kelak nanti adat itu akan di anggap berasal dari Islam..? ) Kata Sunan Ampel. " Nanti bisa bid'ah, dan Islam tak murni lagi " .Pandangan Sunan Ampel di dukung oleh Sunan Giri dan Sunan Drajad, sementara Sunan Kudus dan Sunan Bonang ,menyetujui pendapat Sunan Kalijaga
Sunan Kudus membuat dua kategori : Adat yang bisa di masuki Islam dan adat yang sama sekali tidak.Ini mirip dengan perdebatan dalam ushul fiqih : Apakah adat bisa di jadikan sumber hukum Islam atau tidak .
Namun demikian ,perbeda'an itu tidak mengganggu tali silaturahmi para wali. Sunan Ampel memang di kenal bijak menampung dan menerima perbeda'an pendapat. Oleh karena itu,sepeninggal Maulana Malik Ibrahim,ia di angkat menjadi sesepuh Wali Songo dan mufti ( Juru Fatwa )
    Menurut riwayat,Sunan Ampellah yang memprakarsai pembentukan Dewan Wali Songo,sebagai strategi menyelamatkan dakwah Islam di tengah-tengah kemelut politik Majapahit. Namun mengenai tanggal wafatnya, tidak ada bukti sejarah yang pasti .Sumber-sumber tradisianal memberi titmangsa yang berbeda.
   Babat Gresik menyebutkan tahun 1481,dengan candrasengkala " Ngulama Ampel Seda Masjid "
Cerita Tutur menyebutkan,beliau wafat sa'at sujud di masjid .Serat Kanda edisi Brandes menyatakan tahun 1406. Sumberlain menunjuk tahun 1478,setelah berdirinya Masjid Demak.Beliau di makamkan di sebelah barat Masjid Ampel di areal seluas 1000 meter persegi bersama ratusan santrinya.
    Komplek makam tersebut di kelilingi tembok besar setinggi 2,5 meter. Makam Sunan Ampel bersama Istri dan lima kerabatnya di pegari baja tahan karat setinggi 1,5 meter ,melingkar seluas 64 meter persegi.
Khusus Makam Sunan Ampel di kelilingi pasir putih. Setiap harinya peziarah yang datang ke makam Sunan Ampel rata-rata mencapai 1.000 0rang dari berbagai penjuru pelosok tanah air.Jumlah pengunjung bisa lebih banyak lagi pada waktu-waktu ritual tertentu,seperti sa'at Haul Agung Sunan Ampel misalnya,pengunjung atau peziarah bisa mencapai 10.000 oarng pengunjung yang datang . Di bulan Ramadan Makam Sunan Ampel selalu di padati para peziarah 24 jam penuh,namun makam Syeih Maulana Malik Ibrahim sepi peziarah....
    Pembaca yang budiman ,,,semoga apa yang bisa kami sampaikan kali ini dapat bermanfa'at
ada kurang lebihnya kami mohon ma'af...

Wassalaam.....

 ================================================================

No comments :

Post a Comment

Artikel Terkait